30 Tarian Tradisional Jawa Tengah yang Sangat Populer

  • Bagikan
Tarian Tradisional Jawa Tengah
Tarian Tradisional Jawa Tengah

Tarian Tradisional Jawa Tengah yang Sangat Populer – Halo sobatsiana, di dalam perjumpaan ini aku ingin membahas perihal tari tradisional yang ada di jawa tengah. Siapa sih yang tidak kenal dan paham dengan lokasi Jawa? di lokasi pulau jawa dimana dimana Provinsi yang terbagi menjadi 3 wilayah ini ternyata miliki ragam kebudayaan tersendiri. Dibalik sejarahnya, Pulau Jawa telah berhasil menciptakan banyak ragam karya Seni yang Indah dan eksotis, nah kesenian sekarang ini telah menjadi salah satu kebudayaan Jawa yang dijaga kelestariannya, salah satunya adalah tarian tradisionalnya yang beragam.

Tarian Tradisional Jawa Tengah 

Setelah anda mengetahui mengenai tari Tunggal dan tari berpasangan, maka saat ini kami akan pindah pembahasannya ke Tarian Tradisional Khas Jawa dengan lebih spesifik, tepatnya di Provinsi Jawa Tengah. Kita sudah tahu jelas bahwa terdapat beberapa tarian Jawa Tengah yang terkenal mistis. Apa benar,? yuk simak ulasan lebih lengkapnya berikut ini!

Tarian Tradisional Dari Jawa Tengah :

1. Tari Gambyong

Asal Tari Gambyong yaitu berasal dari daerah Surakarta. Awalnya, tarian ini cuma sebuah pementasan tarian rakyat dan kerap diselenggarakan dikala memasuki musim panen padi. Seiring berjalannya waktu, tari berikut diselenggarakan waktu acara sakral dan sebagai ungkapan rasa penghormatan terhadap tamu Agung yang datang ke Surakarta.

Menilik dari sejarahnya nama dari Tari Gambyong ini diambil dari seorang penari tempo dulu, dimana penari tersebut miliki nada yang benar-benar merdu dan tubuh yang lentur, bersama kedua bakat tersebut maka Gambyong yang miliki nama lengkap Sri Gambyong ini cepat populer dan mampu memikat banyak orang, sehingga trainnya tersebut dinamakan dengan Tari Gambyong.

Hingga kelanjutannya nama si penari tari itu terdengar ke telinga Sunan Paku Buwono IV, sehingga memicu Sultan untuk mengundang Sri Gambyong untuk menari ke dalam Istana Surakarta. Ia pun berhasil memikat orang-orang yang ada di Istana, hingga kelanjutannya tariannya pun jadi dipelajari dan dikembangkan hingga dinobatkan sebagai tarian khas Istana Surakarta.

Mengenai kuantitas penarinya tidak disyaratkan, namun untuk kostumnya ini biasa digunakan adalah kostum kemben sebahu ditambah bersama sebuah selendang. Pada dasarnya tarian Gambyong ini identik bersama warna kuning dan warna hijau. Namun bersamaan berkembangnya zaman, warna tersebut sudah tidak jadi patokan. Musik pengiring tarian Gambyong ini kebanyakan gamelan layaknya Kenong, Gong, Kendang, dan Gambang.

2. Tari Bedhaya Ketawang

Tarian tradisional ini disebut Bedhaya Ketawang, dari nama Bedhaya Ketawang yang memiliki kandungan arti kata ‘bedhaya’ yang bermakna penari wanita dan ‘ketawang’ bermakna langit. Bila kedua kata berikut disatukan jadi “Bedhaya Ketawang” maka ini memiliki kandungan arti penari wanita berasal dari istana langit.
Biasanya tarian Bedhaya Ketawang ini dipertunjukan untuk acara resmi (adat) saja, yang punya tujuan untuk menghibur masyarakat. Menurut sejarahnya, tarian Bedhaya Ketawang ini menceritakan mengenai interaksi Ratu Kidul yang biasa kita kenal bersama dengan Roro Kidul.

Menurut keyakinan penduduk setempat, apabila ada orang yang menarikan Tarian Bedhaya Ketawang ini, maka Nyi Roro Kidul atau Kangjeng Ratu Kidul dapat menghadiri tarian tersebut dan turut menari bersama dengan para penari yang lainnya.

Biasanya tarian Bedhaya Ketawang ini ditarikan oleh 9 orang penari wanita, dimana jumlah penari sembilan orang ini melambangkan Wali Songo, adapun jumlah 9 itu terhitung sebagai arah mata angin.

Busana para penari Bedhaya Ketawang pun kebanyakan memakai kostum baju pengantin tradisi Jawa, dimana para penari tari Bedhaya Ketawang mengenakan gelung besar, dan sebagian accessories Jawa berupa sebuah centhung, sisir jeram saajar, garudha mungkur, tiba dhadha, dan cundhuk mentul. Para penari tari Bedhaya Ketawang diusahakan tidak dalam keadaan sedang datang bulan atau haid.

Musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian Bedhaya Ketawang ini kebanyakan Gending Ketawang Gedge, bisa juga bersama dengan gamelan yang lainnya.

3. Tari Bondan Payung

Tarian tradisional yang selanjutnya di Indonesia adalah Tari Bondan, tari Bondan ini berasal berasal dari Surakarta. Tari Bondan Payung ini menceritakan perihal seorang ibu yang terlampau menyayangi anaknya. Sehingga Tari Bondan Payung pun terbilang simpel. Ciri khas tarian Bondan Payung ini adalah para penarinya akan membawa sebuah payung, boneka bayi dan kendi saat menari.

Pada zaman dulu kala, tarian Bondan Payung ini sudah sering ditarikan oleh para kembang desa, tari Bondan ini punya tujuan untuk memperlihatkan jati diri seorang wanita. Gerakannya pun tidak terbilang rumit, hingga datang sesi sebuah gerakan untuk menegangkan ketika penari Tari Bondan berikut menaiki kendi, dan kendi itu tidak boleh pecah.

Kostum yang digunakan untuk Tari Bondan Payung ini adalah pakaian adat Jawa. Seiring bersama dengan pertumbuhan zaman, tari bondan pun dibagi menjadi 3 jenis, yakni tari bondan mardisiwi, bondan tani dan bondan cindogo. Musik yang digunakan Tari Bondan Payung adalah Gending.

4. Tari Serimpi

Ulasan seni tari tradisional yang ke empat yakni Tari Serimpi. Tari Serimpi berasal berasal dari kota istimewa Yogyakarta. Konon katanya tari Serimpi ini sedikit bernuansa Mistis. Awal awalnya tari Serimpi ini ditunjukkan saat ada acara penggantian raja di sebagian Istana yang tersedia di Jawa Tengah. Menurut cerita penduduk lokal, tari Serimpi ini dapat menghipnotis para pemirsa untuk menuju ke alam lain.

Walau bagaimanapun juga, tari Serimpi ini bertujuan untuk menunjukan seorang wanita yang sopan dan santun serta benar-benar lemah gemulai.

Seiring bersama dengan perkembangan zaman, tari Serimpi ini mengalami beberapa perubahan dari segi durasi tarian dan kostumnya. Tari Serimpi ini dibagi jadi jadi beberapa jenis, diantaranya Serimpi Babul Layar, Serimpi Genjung, Serimpi Bondan, Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Dhempel.

Tari Serimpi ini umumnya ditarikan oleh 4 orang penari wanita, hal ini sebagai penanda sebuah unsur api, air, angin dan bumi. Namun bersamaan berkembangnya jaman, jumlah penaripun kadang bisa menjadi 5 orang.

Kostum tari yang digunakan untuk penari Tari Serimpi adalah baju yang biasa digunakan pengantin putri keraton Yogyakarta atau keraton yang tersedia di Surakarta. Sedangkan musik pengiring yang digunakan adalah sebuah gamelan.

5. Tari Beksan Wireng

Tari Beksan Wireng adalah tari yang berasal dari Jawa Tengah dan diciptakan oleh Prabu Amiluhur. Tujuan diciptakannya tarian ini untuk menyemangati 4 prajurit perang yang waktu itu yang sedang berlatih. Hal ini terlihat dengan gerakan-gerakan para penari yang gagah perkasa sedang mempunyai tombak dan tameng. Karena tarian ini sebetulnya mempunyai kandungan tema perang.

Dengan berkembangnya zaman, tarian ini terbagi jadi 6 tipe yaitu Panji Sepuh, Panju Anem, Dhadap Kanoman, Jemparing Ageng, Lhawung Ageng dan Dhadhap Kreta. Biasanya tarian ini ditarikan oleh laki-laki dan gunakan kostum bak seorang prajurit.

6. Tari Ebeg atau Kuda Lumping

Tarian tradisional yang ke enam adalah tari ebeg atau tari yang biasa pakai boneka kuda. Tarian ini tidak menunjukan tarian terhadap umumnya layaknya tarian yang lemah gemulai.

Dalam menarikan tarian ini tidak usah belajar, hanya melenggak lenggok ikuti rangkaian musik. Ada lebih dari satu syarat yang kudu disediakan selama pertunjukkan ini layaknya sesaji dan menyan. Hal ini diharuskan gara-gara para penari barangkali akan kerasukan mahkluk halus dan memakan barang-barang sekitar. Musik yang melatar belakangi tarian ini adalah gamelan banyumasan, bendhe dan gendhing.

7. Kethek Ogleng

Tarian tradisional yang satu ini bernama Kethek Ogleng berasal dari bahasa Jawa yang andaikata diambil kesimpulan ‘kethek’ adalah kera. Sedangkan Ogleng diambil dari suara bunyi yang melatar belakangi tarian ini yang seperti berbunyi Ogleeeng… Ogleeeng…

Tari Kethek Ogleng berasal berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah. Asal usulnya tarian ini menceritakan Raden Gunung Sari yang menjelma menjadi kera, dan mengusahakan mengelabui musuhnya.

Maka dari itu, penarinya pun selalu bertopeng kera dan menirukan gerakan-gerakan kera, tidak ada gerakan spesifik untuk tarian ini, penari hanya nikmati aluran musik dan menari layaknya seekor kera. Biasanya penari Kethek Ogleng dapat mengajak salah seorang penonton yang menyaksikan tarian ini untuk berjoget bareng.

8. Sintren

Sintren berasal dari Cirebon, menyebar ke bermacam tempat sampai Jawa Barat. Tarian ini berbau mistis, menceritakan perihal kisah cinta Sulasih dan Sulandono.

Asal muasalnya tarian ini dibuat dikala Bupati Kendal menikah dengan Dewi Rantamsari yang biasa dijuluki Dewi Lanjar. Namun pasangan itu tidak direstui oleh Ki Bahureksi. Akhirnya mereka berdua berpisah, Sulandono menjalani proses petapa sedangkan Sulasih menjadi penari. Walaupun begitu, konon katanya mereka berdua tetap bertemu di alam gaib. Tarian ini terlalu mistis sekali, apalagi sebelum pertunjukan, perlu di awali lebih-lebih dahulu dengan Dupan atau ritual berdoa. Namun katanya, tarian ini mulai tenggelam dan tidak sering lagi dipentaskan.

9. Tari Jlantur

Tari Jlantur berasal berasal dari Boyolali. Biasanya dimainkan oleh 40 orang penari laki-laki. Sedikit info yang tentang tarian ini, perihal ini barangkali sudah kurangnya minat orang-orang untuk melestarikan budaya Tari Jlantur. Sejarahnya, ternyata tarian ini menggambarkan perjuangan kisah Pangeran Diponegoro yang melawan para penjajah.

Menurut sebagian sumber, penari Tari Jlantur selalu pakai kuncir kepala seperti orang Tukri dengan membawa sebuah kuda tiruan.

10. Tari Prawiroguno

Tarian ini mempunyai makna kisah disaat para penjajah yang hampir mengalami kemunduran, dan keadaan itu dijadikan ide untuk membawa sebuah tarian yang saat ini kita sebut Tari Prawiroguno.

Tarian ini miliki tema peperangan, dan gerakan para penari bak seorang prajurit membawa pedang/samurai bersama dengan tameng berlenggok-lenggok seakan tengah bersiap-siap menyerang musuh.

11. Tari Angsa

Tarian ini melambangkan keagungan seorang Dewi yang ditemani bersama dengan sekelompok penari angsa. Tari angsa jadi salah satu tarian kebanggaan Jawa Tengah, kerap dipertunjukan untuk acara-acara tertentu. Dizaman sekarang, tarian ini kerap ditarikan oleh siswa-siswa SD waktu mereka raih kelulusan atau pindahan sekolah ke SMP.

Namun ternyata Tari Angsa tidak cuma tersedia di Indonesia, tersedia juga di sebagian negara yang membawa Tarian Tradisional layaknya ini, cuma saja cerita latar belakang yang berbeda. Tari angsa umumnya ditarikan secara berpasangan, tetapi tersedia termasuk yang sendiri hingga berlima. Alat musik pengiringnya pun gendang, gitar, dan degung. Namun seiring bersama dengan zaman, alat musik yang digunakan pun tidak setradisional zaman dulu.

12. Tari Ronggeng

Tari Ronggeng berasal dari Jawa, penciptanya Endang Caturwati. Sampai saat ini tari ronggeng dibudayakan hingga turun temurun. Tema tarian ini tidak serupa seperti tarian lain, tari ronggeng ditarikan oleh wanita, gerakannya pun berkesan agresif mendekati eksotis

Tari ini punya ciri khas di dalam gerakannya yang lebih sensual dan pandai menarik libido para lelaki. Asal muasalnya, tari ini dibikin untuk upacara meminta kesuburan tanah. Namun, gara-gara berkaitan bersama kesuburan, mengartikannya salah…. Hingga pada akhirnya gerakan di dalam tarian ini serupa orang yang tengah bercinta. Namun seiring bersama zaman, tarian ini menjadi dikurangi unsur eksotisnya. Alat musik yang melatari adalah rebab dan gong.

Akhir Kata

Nah, itulah ulasan berkenaan Tarian Tradisional Dari Jawa Tengah yang cukup Populer di Indonesia. Semoga dengan ada pembahasan ini bisa bermanfaat dan menjadi referensi bagi teman baik semua. Terimakasih telah membaca artikel ini, janganlupa baca juga artikel yang lainnya seputar seni tari tradisional yang ada di situs ini!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page